
Menempuh Jalan Maknawi
Menempuh perjalanan maknawi adalah terlalu sulit melainkan bagi mereka yang diciptakan untuk melalui jalan ini. Adapun Sidnan Nabi صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم sendiri telah bersabda:
كل ميسر لما خلق له
“Setiap orang akan dipermudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia diciptakan untuknya”.
Demikianlah Allah Taala menciptakan setiap insan untuk mengerjakan suatu amalan dan Dia memudahkan jalan bagi si hamba untuk melakukan pekerjaan itu.
Ada dua jenis HIJAB (halangan):
1) Hijab rayni -na’uzu billahi minhu- yang takkan tersingkap selama-lamanya.
2) Hijab ghayni yang dapat dihapus dengan segera.
Mari diperjelaskan perkara ini:
Adakalanya diri seorang hamba itu sendiri yang menghijabnya dari Allah, orang ini sama baginya hak dengan batil.
Ada pula seorang hamba yang sifat dirinya menghijabnya dari Allah, namun tabiat dan sirr (intipati) dirinya sentiasa mencari-cari Allah subhanahu wa taala dan sentiasa lari dari kebatilan.
Maka hijab diri itulah rayni yang takkan tersingkap selama-lamanya. Adapun makna istilah rayn, khatm dan thab’ adalah sama seperti yang warid dalam firman Allah Taala:
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم ما كَانُوا يَكْسِبُونَ. كَلاَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
Sebenarnya! (ayat-ayat Kami itu tidak ada cacatnya) bahkan mata hati mereka telah diselaputi kekotoran (dosa), dengan sebab (perbuatan kufur dan maksiat) yang mereka kerjakan. Jangan lagi mereka berlaku demikian! (kalau tidak), mereka pada hari itu, tetap terdinding dari (rahmat) Tuhannya. – Al-Muthoffifin: 14-15
Hukum bagi orang yang berkeadaan demikian itu telah dijelaskan Allah Taala dalam firmannya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama sahaja jika engkau memberi amaran atau tidak mereka tetap takkan beriman...”- Al-Baqarah: 6
Sebab bagi keengganan mereka dijelaskan pula oleh Allah Taala dalam firmanNya:
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Allah telah mengecap hati-hati mereka, pendengaran mereka dan pengelihatan mereka dengan kesamaran dan bagi mereka azab yang besar”- Al-Baqarah: 7
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
“...dan Allah telah mengecap pendengaran dan hatinya, Allah jadikan pandangannya kabur, maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk sesudah Allah?! Apakah mereka tidak mengambil peringatan?!” – Al-Jatsiyah: 23
Kalimah khatam disebut dalam 5 ayat Al-Quran.
Lagi firman Allah Taala:
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Merekalah orang-orang yang Allah telah tempa hati, pendengaran dan pengelihatannya, dan merekalah orang-orang yang lalai”.
كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىَ قُلُوبِ الْكَافِرِينَ
“Demikianlah Allah menempa hati orang-orang yang kafir”.
كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
“Demikianlah Allah menempa hati orang-orang yang tidak mengetahui”.
كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
“Demikianlah Allah menempa hati tiap orang yang sombong dan membesar diri”.
Kalimah thab’ disebut dalah 11 ayat AL-Quran.
Adapun hijab sifat/ghayni pula dapat dihapus pada waktu-waktu tertentu. Memang bertukar sifat adalah sesuatu yang boleh berlaku. Tapi kalau pertukaran zat diri - itu merupakan keanehan dan hukumnya ajaib.
Perumpamaannya adalah seperti berikut:
Adalah tidak mungkin mencipta cermin dari batu walau dengan apa cara sekalipun, adapun cermin yang berkarat dapat diterangkan kembali dengan menggilapnya. Ini kerana zulmat adalah sifat asli bagi batu sedangkan terang adalah sifat asli bagi cermin. Dan asal itulah yang akan kekal seperti halnya hati.
Demikianlah keadaannya hati yang menjadi tawanan hijab ghayni; ia dapat diterangkan kembali dengan zikir yang banyak sebanyak-banyaknya dan dengan mujahadah yang berterusan. Kerana pada hati itu tersimpan jauhar, sirr, cahaya kebenaran dan hakikat.
Dengan demikian gigihlah seorang kembara di perjalanan hakikat maknawi, dia akan bahagia melaksanakan syariat tanpa rasa berat atau memberat-berati diri dalam melaksanakannya, dia menunaikan syariat itu dengan fitrah, mahabbah dan redho.
Adapun mereka yang sedari tanah kewujudannya berasal dari ingkar terhadap kebenaran dan menunggang kebatilan maka mereka ini takkan selama-lamanya menemui jalan kepada bukti-bukti kebenaran. Mereka hidup sebagai mayat-mayat bergelimpangan dalam kesesatan yang terang benderang; tanpa pancaindera, tanpa perasaan... mereka dengan mudah mengkafirkan kaum Muslimin walau dengan sebab yang paling remeh.
Mereka tidak mahu pada rahmat Allah dan mereka tidak mahu rahmat Allah turun kepada ahli zikir. Hati-hati mereka sakit lalu sakitlah pula seluruh anggota mereka, mereka mahu kejahatan menimpa seluruh manusia dan apa yang mereka tahu hanyalah kejahatan semata dan merekalah ahli kejahatan.
Allahumma peliharalah kami dari mereka, jadikanlah antara kami dengan mereka ada hijab penghadang dariMu agar kami tidak melihat mereka dan mereka tidak melihat kami.
Allahumma amin. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap sesuatu.
Maaf : Hakikat kasyaf adalah kebinasaan bagi mereka yang terhijab, sepertimana hijab itu adalah kebinasaan bagi yang kasyaf. Kerana yang berdamping dekat takkan mampu menanggung kejauhan dan yang jauh pula takkan mampu berdampingan.
Wallahu a’lam.
Allah Maha Kuasa atas tiap sesuatu.
















